#InspirasiKyaiku
_Teladan Simbah Yai Imam Kusairi_
*KASIH SAYANG*
Dahulu, Pembangkit Listrik Mandiri disuatu desa terpusat pada satu titik, dimana diesel itu ditempatkan. Tak ayal kadang apabila ada masyarakat mebutuhkan sambungan listrik, maka si empunya akan menyiapkan kabel untuk menghubungan listrik. Bayangkan saja jika rumahnya berada 2 kilo jauhnya, berapa biaya yg diperlukan untuk itu.
Biasanya masyarakat akan patungan untuk membiayai perawatan diesel, penyambungan kabel, dan keperluan lainya. Dan biasanya dibayarkan 1 bulan sekali, atau ketika panen. Tak jarang banyak warga yg menunggak membayar. Tapi kyai kamipun memakluminya, dan menggunakan uang pribadinya untuk menutup semua kebutuhan yg kurang.
Sampai pembantu yg biasa diajak _ndandani_ listrik pun gregetan. Dan bertanya kepada Kyai :
👩🏿🦲Mbah, kulo kok gregeten (Mbah, saya kok sebal sekali)
👳kenopo le? (Kenapa nak)
👩🏿🦲Niku lho mbah, tiyang2 kok podo mboten bayar listrik (Itu lho mbah, orang2 kok tidak bayar listrik)
👳trus pye le? (trus bagaimana?)
👩🏿🦲nggeh diputus mawon listrike (ya diputus saja listriknya)
👳yo ojo le, sa'ake mgko pye nak bengi, nak butuh listrik nggo nguripke lampu, mungkin durung ndue kanggo bayar (Jangan nak, kasihan nanti kalau malam butuh hidupkan lampu, mungkin belum punya uang)
👩🏿🦲 nggeh mbah (Iya Mbah).
Subhanallah..
Sungguh teladan yg baik, semoga kita semua dapat mengikuti jejak beliau
Aminn..
_(disarikan dari jagong jinagong dengan Lek Suroso)_
#zQ
_Teladan Simbah Yai Imam Kusairi_
*KASIH SAYANG*
Dahulu, Pembangkit Listrik Mandiri disuatu desa terpusat pada satu titik, dimana diesel itu ditempatkan. Tak ayal kadang apabila ada masyarakat mebutuhkan sambungan listrik, maka si empunya akan menyiapkan kabel untuk menghubungan listrik. Bayangkan saja jika rumahnya berada 2 kilo jauhnya, berapa biaya yg diperlukan untuk itu.
Biasanya masyarakat akan patungan untuk membiayai perawatan diesel, penyambungan kabel, dan keperluan lainya. Dan biasanya dibayarkan 1 bulan sekali, atau ketika panen. Tak jarang banyak warga yg menunggak membayar. Tapi kyai kamipun memakluminya, dan menggunakan uang pribadinya untuk menutup semua kebutuhan yg kurang.
Sampai pembantu yg biasa diajak _ndandani_ listrik pun gregetan. Dan bertanya kepada Kyai :
👩🏿🦲Mbah, kulo kok gregeten (Mbah, saya kok sebal sekali)
👳kenopo le? (Kenapa nak)
👩🏿🦲Niku lho mbah, tiyang2 kok podo mboten bayar listrik (Itu lho mbah, orang2 kok tidak bayar listrik)
👳trus pye le? (trus bagaimana?)
👩🏿🦲nggeh diputus mawon listrike (ya diputus saja listriknya)
👳yo ojo le, sa'ake mgko pye nak bengi, nak butuh listrik nggo nguripke lampu, mungkin durung ndue kanggo bayar (Jangan nak, kasihan nanti kalau malam butuh hidupkan lampu, mungkin belum punya uang)
👩🏿🦲 nggeh mbah (Iya Mbah).
Subhanallah..
Sungguh teladan yg baik, semoga kita semua dapat mengikuti jejak beliau
Aminn..
_(disarikan dari jagong jinagong dengan Lek Suroso)_
#zQ
Komentar
Posting Komentar