Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni 26, 2019

Sejarah Tarbiyatul Ulum

#sejarahTU Salah satu murid Madrasah Tarbiyatud Diniyyah yakni Hj. Sumiyati (Mbah Yati @⁨Mbah Yatii⁩ ) pada th. 62, yg kemudian menjadi Istri KH. Imam Kusairi. Kondisi sekolah pada th tersebut terdiri dari 3 lokal berdinding batu pasir, yg setelah itu direnovasi atas usualan Kades Wedarijaksa Bp. Karsono mendapat bantuan dari pemerintah ketika th. 87. Bertepatan pada saat itu sedang marak Inpres (Instruksi Presiden) untuk Pendidikan Dasar. Narasumber : Hj. Umi Hasanah #sejarahTU Pada th. 1942 berdiri sebuah Madrasah Tarbiyatud Diniyyah yg merupakan cikal bakal lahirnya Madrasah Tarbiyatul Ulum pada th. 1987, bertempat di sebelah utara Jl raya Wedarijaksa-Jetak yg pada awal berdirinya hanya mempunyai 2 lokal kelas dan bangunan Musholla lama. Narasumber : Bp. Shohibi Musa #SejarahTU Mbah Yai Ahmad lahir pada th. 1875 dan wafat pada th 1957 dg usia 82th. Mbah Mad lahir dari pasangan Mbah Mushtofa & .... Dg 6 bersaudara diantaranya Mbah Madnur, Heri, dll. Mbah Mad memp...

SETRUM

#HumorKyaiku _Gojekan Simbah Yai Imam Kisairi_ *SETRUM* Mah Yai Kusairi pada tahun 1986 mempunyai seorang pembantu dalam bidang listrik (staf Elektro), biasanya selalu diajak memperbaiki apabila ada kerusakan pada jaringan listrik atau kabel putus. Ketika ada kabel yg putus, warga tidak tahu, kecuali kalau menjelang malam. Suatu malam ada warga yg melapor bahwa listrik dirumahnya mati. Kemudian Kyai kami dan pembantunya bergegas datang dan memperbaiki kerusakan tersebut. Ditengah proses perbaikan, tiba2 terdengar suara, DARR! sontak pembantunya pun kaget. 👨🏼‍🦰wonten nopo mbah? (ada apa mbah) 👳iki lho le (ini lho nak) sambil menunjuk ke kabel yg terbuka. 👨🏼‍🦰wah.. Bahaya niki mbah (ini berbahaya mbah) 👳 iyo le, ancen setrum gak ndue adab (iya nak, emang setrum tidak punya akhlak) 👨🏼‍🦰 lha nopo mbah? (kenapa mbah) tanyanya kebingungan 👳 wong wes tak hombo puluhan taun lho, kok ijeh mentolo nyetrum ae (sudah saya abdikan diri kelistrikan, kok masih berani meny...

PLTK

#HumorKyaiku _Gojekan Simbah Yai Imam Kusairi_ *PLTK* Diceritakan pada tahun 1985, zaman listrik belum masuk Desa Wedarijaksa Pati. Masyarakat masih mengunakan aliran listrik menggunakan diesel, accu, atau sejenisnya. Pun tidak terkecuali apabila masyarakat tidak mempunyai alat, bisa menyambung kabel ke setiap rumah-rumah. Pusat dari Aliran listrik biasanya dirumah sang empunya, berupa diesel besar, yg akan dihidupkan ketika menjelang senja. Satu-satunya empunya yakni Simbah Yai Kusairi. Suatu hari ada seseorang ingin menyambung listrik tapi tidak tau kemana, dan tanya kepada tetanganya. 👨‍🦳"Lek, nak ape nyambung listrik nak endi yo? (Kalau mau menyambungkan listrik dimana ya tempatnya)" katanya kebingungan. 👴🏿Tetangganya menjawab. "Nak kunu lho lek, cerak'e kantor pos, kui ono PLTK (Disana, dekatnya kantor pos, ada PLTK). 👨‍🦳Tambah penasaran bertanya lagi "Opo kui PLTK lek? (Apa itu PLTK). 👴🏿Dijawab lah "PLTK kui Pembangking Listrik...

Kasih Sayang

#InspirasiKyaiku _Teladan Simbah Yai Imam Kusairi_ *KASIH SAYANG* Dahulu, Pembangkit Listrik Mandiri disuatu desa terpusat pada satu titik, dimana diesel itu ditempatkan. Tak ayal kadang apabila ada masyarakat mebutuhkan sambungan listrik, maka si empunya akan menyiapkan kabel untuk menghubungan listrik. Bayangkan saja jika rumahnya berada 2 kilo jauhnya, berapa biaya yg diperlukan untuk itu. Biasanya masyarakat akan patungan untuk membiayai perawatan diesel, penyambungan kabel, dan keperluan lainya. Dan biasanya dibayarkan 1 bulan sekali, atau ketika panen. Tak jarang banyak warga yg menunggak membayar. Tapi kyai kamipun memakluminya, dan menggunakan uang pribadinya untuk menutup semua kebutuhan yg kurang. Sampai pembantu yg biasa diajak _ndandani_ listrik pun gregetan. Dan bertanya kepada Kyai : 👩🏿‍🦲Mbah, kulo kok gregeten (Mbah, saya kok sebal sekali) 👳kenopo le? (Kenapa nak) 👩🏿‍🦲Niku lho mbah, tiyang2 kok podo mboten bayar listrik (Itu lho mbah, orang2 kok tid...

Dzurriyah Ahmad Musthofa

Kami.. Kendati memiliki garis keturunan terhormat.. Tidak sekalipun mengandalkan garis keturunan.. Kami membangun sebagaimana leluhur kami membangun.. Dan berbuat serupa dengan apa yang mereka perbuat.. #DzurriyyahAhmadMusthofa