Al-Quran bak intan berlian, dengan segala sudutnya mampu memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lain, dan tidak mustahil jika anda mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak dari pada apa yang anda lihat. Ilustrasi ini menggambarkan kepada kita bahwa al-Quran sebagai sebuah teks telah memungkinkan banyak orang untuk melihat makna yang berbeda-beda di dalamnya. Dengan berbagai sudut pandang keilmuan, bahkan juga bermetamorfosa dengan pandangan kehidupan.
Hidup dengan Al-Quran merupakan sebuah keniscayaan (sunnatullah) yang akan menuntun manusia menuju Shiratal Mustaqim (jalan yang lurus). Dalam kehidupan kemasyarakatan, al-Quran mempunyai banyak peranan yang mampu menjawab perkembangan zaman sekaligus memberikan solusi terbaik.
Dalam konteks sosial kemasyarakatan, al-Quran berfungsi sebagai pengusung perubahan, pembebas masyarakat yang tertindas, pencerah masyarakat dari kegelapan, pendobrak sistem pemerintahan yang dzalim, penebar semangat emansipasi serta penggerak transformasi masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
Sementara dalam kehidupan pribadi, al-Quran bisa menjadi Syifa (Obat) lahir maupun bathin. Karena terbukti banyak yang menggunakan obat dengan ayat al-Quran ketika menjalani pengobatan medis. Juga ketika mederita penyakit bathin, ayat al-Quran lah yang dipakai untuk menyembuhkan. Misalnya surat al-Fatihah yang fadilahnya bisa menyembuhkan sakit panas yang dibacakan dengan segelas air, dan juga surat al-Muawwidzatain yang mampu untuk mengusir pengaruh jahat yang mengganggu manusia.
Tak hanya itu saja, Masalah ekonomi pun al-Quran juga dipakai untuk memberikan solusi atas persoalan materiil. Yakni sebagai tawassul untuk memudahkan dalam mendatangkan rezeki. Fenomena seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat, bahwa ada ayat maupun surat tertentu yang dapat memancing mudahnya rezeki, mendatangkan kemulian serta mendapatkan keberkahan bagi yang membacanya, sehingga melahirkan waktu tertentu untuk mengamalkan tradisi ini. Misalnya surat al-Waqiah yang dipercaya mampu mendatangkan atau memudahkan ihwal rizki.
Hal ini tidak lepas adanya kebutuhan untuk hidup dengan al-Quran, atau bisa kita sebut dengan Living Quran (Kehidupan dalam al-Quran). Living Quran sejatinya telah lama dimulai oleh para kyai yang notabenenya sebagai pewaris para nabi. Kemudian menurun kepada para muridnya, atau kita sebut dengan Santri.
Santri secara sadar atau tidak, kehidupan sehari-harinya dibawah naungan al-Quran. Itu semua berkat para kyai yang mengajari dan menuntunnya untuk setia mengamalkan apa yang diperbuat oleh kyai. Tak jarang kadang santri tidak berani bertanya apa yang dilakukan oleh kyainya, meski terasa aneh dalam hatinya. Akan tetapi rasa hormatnya mengalahkan rasa keingintahuannya.
Tradisi mengikuti apa yang dilakukan oleh kyainya inilah yang membuat para santri senantiasa berjalan lurus, yakin dan tidak pernah gentar apa yang dilakukanya. Karena dirinya berpatokan pada apa yang diperbuat kyai. Ber-Amal Ilmy (Amalan yang dilandasi Keilmuan) sesuai dengan kenyakinannya mengikuti kyai.
Tradisi Hafalan Santri
Tradisi mengahafal ilmu pengetahuan telah berlansung sejak lama, khusunya didaerah Timur Tengah, mulai zaman pra-Islam sampai sekarang ini. Banyak pesantren yang menerapkan hafalan untuk pelajaran sehari-hari. Sering kita jumpai pesantren yang mewajibkan muridnya hafal pelajaran penting. Seperti halnya di Madrasah TBS Kudus yang mewajibkan santrinya untuk menghafal ilmu Gramatikal Arab, yakni Alfiyah Ibnu Malik. Sebuah karangan puisi arab sebanyak 1000 bait, yang menjadi rujukan utama dalam tata bahasa arab. Bahkan hafalan ini menjadi menjadi tolak ukur ketika santri akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Awalnya santri akan merasa tidak banyak manfaat ketika menghafal, akan tetapi seiring berjalannya waktu santri akan sadar, bahwasannya hafalanya akan membantu ketika dia belajar, karena memori otak akan terbuka ketika dia mengulang hafalannya. Secara tidak langsung, tradisi menghafal akan mengajarkan santri untuk terbiasa menghafal dan mengingat. Dengan mengahafal santri mendapatkan kuncinya, dan kunci itu untuk mengaplikasikan ilmu tersebut.
Banyak para kyai yang hafal berbagai kitab, dikarenakan tradisi ini. Dengan menghafal akan banyak ilmu yang kita fahami. Allah SWT berfirman Apakah sama orang yang tahu (berilmu) dg yang tidak tahu?. lantas apakah kita masih malas untuk menghafal?
Tradisi Menghormati Kyai
Kyai adalah panutan bagi santri, apapun yang dilakukannya harus dipercayai dan diduplikasi. Karena Kyai adalah seorang Guru, yang dalam bahasa jawa kepanjangannya adalah GU harus digugu (dipercaya) dan RU harus ditiru (diikuti).
Dalam al-Quran dikisahkan, bahwasannya Nabi Musa diperintah oleh Allah untuk bertemu dengan seorang Nabi (Khidir) - ini adalah isyarat Alah kepada Nabi Musa untuk berguru. Kemudian Nabi Khidir memberikan syarat kepada Nabi Musa untuk tidak bertanya ketika diperjalanan nanti. Ketika diperjalanan Nabi Musa mendapati banyak hal yang janggal, dan itu berulang sampai tiga kali, disetiap keanehan tersebut Nabi Musa pun bertanya, hingga membuat Nabi Khidir mengalah untuk menjelaskannya dengan konsekuensi bahwa Nabi Musa gagal menjadi santrinya (murid). Nabi Khidir pun akhirnya memberi tahu apa yang diperbuatnya, dan ternyata Nabi Musa pun mengakuinya dengan penuh rasa menyesal.
Seperti yang dicontohkan oleh Mahaguru Simbah Arwani Amin, ketika beliau mondok di Krapyak Jogjakarta. Beliau diminta oleh gurunya Simbah Munawwir untuk membersihkan kulah (kamar mandi), padahal beliau memakai pakaian yang bagus. Tetapi beliau tidak ganti pakaian dan langsung mengerjakan apa yang diperintah Kyainya. Karena disetiap kepatuhan akan ada berkah.
Pemandangan menghormati kyai lazim kita dapati pada Santri Menara, ketika berjalan dan didepannya ada kyai, santri akan berjalan dengan sabar dibelakangnya, dan berusaha tidak mendahuluinya. Ketika ada kyai datang maka santri akan akan berhenti dan sedikit membungkuk simbol hormat kepada kyai.
Dalam uraian tersebut santri harus meyakini apa yang diperbuat oleh kyai, husnudzon (prasangka baik) dengan segala kehidupan kyai bahwasaanya apa yang dilakukan kepada kita itulah yang terbaik. Karena guru itu lebih mengarti apa yang terbaik untuk muridnya.
Tradisi Memuliakan Ilmu
Ilmu ibarat manusia, jika kita memuliakannya dia akan mendekat, akan tetapi ketika kita mencela dan tidak menghormati, maka dia akan menjauh dan pergi. Memuliakan ilmu harus lahir bathin, lahiriahnya adalah bentuk fisik ilmu itu sendiri, yakni al-Quran, kitab, buku, dll. Sementara bentuk bathinnya adalah dengan cara mengulang, mempelajari, membaca, dll.
Fenomena memuliakan ilmu bisa kita temukan pada santri, khususnya Santri Menara - santri yang hidup di daerah sekitar menara, lebih spesifiknya santri TBS Kudus. Di daerah tersebut santri begitu memuliakan ilmunya, sebelum belajar kitab maka akan diciumnya bak kekasihnya, pun ketika selesai mempelajarinya. Menaruh ditempat yang tinggi sekiranya tidak sejajar dengan kaki sampai pusar. Bahkan, penulis sendiri pernah ditegur oleh guru ketika studi di MTs TBS, dikarenakan menaruh kitab disembarang tempat, kemudian guru tersebut berkata. Ilmu itu memilih tuannya, jika dia diperlakukan baik, maka dia (ilmu) akan setia mengikuti tuannya (melekat dalam hati). Perkataan itu masih penulis ingat hingga saaat ini.
Kata Imam Syafii, bahwasannya dengan ilmu kita akan mengusai dunia atau akhirat, bahkan keduanya. Allah sendiri akan meninggikan derajat orang yang berilmu.
Tradisi Rendah Hati
Pernahkah kita mendengar kisah Simbah Yai Turaihan Adjhuri? Beliau adalah Ahli Falak (Astronomi) yang sangat terkenal. Pernah suatu ketika, Simbah Turaihan berbeda pendapat dengan Pemerintah tentang gerhana matahari, sehingga beliau mengatakan bahwa melihat matahari pada waktu gerhana tidak membutakan mata. Pada akhirnya pernyataan beliau benar terjadi. Kejadian seperti ini tidak membuat beliau sombong.
Sikap Rendah hati tetap dimiliki beliau dalam kehidupan sehari-hari, bahkan beliau selalu bersikap akomodatif terhadap pemerintah, walaupun pemerintah pernah beberapa kali mencekalnya karena mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan pemerintah perihal penentuan awal bulan syawwal.
Rendah hati dalam kehidupan santri sudah pasti kita dapatkan, menjalankan anjuran Allah SWT untuk bersikap tawadlu. Jika kita melintas di daerah sekitaran Menara Kudus menuju madrasah TBS Kudus. Berjalan santri tidak dengan membusungkan dada, tetapi dengan membungkukkan badan. Seakan dirinya berkata aku ini hanyalah manusia biasa. Sikap ketawadlu’an ini juga bisa kita temukan di dalam kelas, ketika santri sudah mengetahui apa yang diajarkan oleh kyainya, dia akan tetap mendengarkan dan memperhatikan dengan Ikhlas.
Tradisi Orientasi Akhirat
Dunia ladang akhirat, barang siapa yang bercocok tanam maka dia akan memanennya. Imam Ghazali mengisyaratkan bahwa hidup didunia hanya sementara, yang kekal adalah akhirat.
Salah satu masyayikh TBS Kudus, Simbah Yai Mamun Ahmad pernah ditanya seseorang, Mbah Yai sakit kok malah mengucapkan hamdalah?, Mbah Mamun pun menjawab, Alhamdulillah saya dikasih sakit panas, jadi tidak usah repot-repot memasak air panas. Subahanallah, tatkala seorang ditimpa musibah, Mbah Mamun malah bersyukur kepada Allah. Mbah Mamun memang terkenal dengan kezuhudannya (tidak memikirkan dunia), karena segala yang beliau terima hanya titipan.
Pernah suatu ketika, beliau menolak sumbangan dari pemerintah dengan alasan syubhat (tidak jelas halal haramnya). Terkenal dermawan, bahkan sebagian harta beliau diberikan kepada Madrasah TBS Kudus. Beliau tidak memikirkan bahwa hartanya akan habis. Beliau sering berkata Masalah rejeki, kabeh wes ono seng ngatur (tentang rizki, semua sudah ada yang mengatur yakni Allah).
Kedihupan santri di pondok tidak lepas dengan interaksi sosial, karena pondok adalah tempat berkumpulnya para penuntut ilmu. Santri tidak akan tega melihat temannya kesusahan, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya bahagia, walaupun dia sendiri juga membutuhkan materi tersebut. Kebiasaan lainnya yakni ketika sehabis pulang liburan atau sekedar balik ke rumah, membawa makanan dan akan dimakan bersama-sama. Santri tidak memikirkan sendiri bagaimana nanti makananya habis, tetapi karena santri percaya bahwa rizki sudah ada yang mengaturnya.
Tradisi Santri sejalan dengan Firman Allah SWT, Dan carilah pada segala anugerah yang telah diberikan Allah kepadamu (orientasi) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan duniamu, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.
Pada Akhirnya, semua yang berpegang kepada al-Quran maka dia yang akan beruntung. Semoga kita semua termasuk orang yang diridhoi Allah dalam segala aktivitas kita. Amin.
Zaki Muttaqien
*Alumni MTs NU TBS Kudus tahun 2007. Lahir di Pati, 26 Januari 1992. Masa Kecilnya dihabiskan untuk menghafal al-Quran di Ponpes Yanbuul Quran Anak-Anak Krandon Kudus. Kelas 3 MI sudah khatam dan bertalaqqi langsung kepada Romo Yai Albab Arwani. Melajutkan MTs NU TBS sembari mondok di Yanbuul Quran Remaja. Hijrah ke kota Pati untuk Studi di MA Raudlatul Ulum YPRU Guyangan Pati. Baru saja merampungkan pendikan Sarjana Ilmu Quran di Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran (STKQ) AL-HIKAM Depok asuhan KH. Hasyim Muzady. Pernah Mondok di Ponpes Al-Anwar Sarang Rembang, juga pernah Studi selama satu semester di Pusat Studi Quran asuhan Prof. Quraish Sihab dan belajar Qiraat Asyrah di Pesantren Sulaimaniyyah Istanbul Turki cabang Jakarta. Menjabat Sebagai Pengurus Pusat Forum Komunikasi Tafsir Hadits Indonesia (FKMTHI) dan mengabdi di Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP.IPNU). Sedang tugas pengabdian masyarakat di wilayah Aceh selama setahun kerjasama KEMENAG & KEMENDIKBUD. Email : zakimuttaqien@gmail.com Hp. 089669242907/0858669381821.
Hidup dengan Al-Quran merupakan sebuah keniscayaan (sunnatullah) yang akan menuntun manusia menuju Shiratal Mustaqim (jalan yang lurus). Dalam kehidupan kemasyarakatan, al-Quran mempunyai banyak peranan yang mampu menjawab perkembangan zaman sekaligus memberikan solusi terbaik.
Dalam konteks sosial kemasyarakatan, al-Quran berfungsi sebagai pengusung perubahan, pembebas masyarakat yang tertindas, pencerah masyarakat dari kegelapan, pendobrak sistem pemerintahan yang dzalim, penebar semangat emansipasi serta penggerak transformasi masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
Sementara dalam kehidupan pribadi, al-Quran bisa menjadi Syifa (Obat) lahir maupun bathin. Karena terbukti banyak yang menggunakan obat dengan ayat al-Quran ketika menjalani pengobatan medis. Juga ketika mederita penyakit bathin, ayat al-Quran lah yang dipakai untuk menyembuhkan. Misalnya surat al-Fatihah yang fadilahnya bisa menyembuhkan sakit panas yang dibacakan dengan segelas air, dan juga surat al-Muawwidzatain yang mampu untuk mengusir pengaruh jahat yang mengganggu manusia.
Tak hanya itu saja, Masalah ekonomi pun al-Quran juga dipakai untuk memberikan solusi atas persoalan materiil. Yakni sebagai tawassul untuk memudahkan dalam mendatangkan rezeki. Fenomena seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat, bahwa ada ayat maupun surat tertentu yang dapat memancing mudahnya rezeki, mendatangkan kemulian serta mendapatkan keberkahan bagi yang membacanya, sehingga melahirkan waktu tertentu untuk mengamalkan tradisi ini. Misalnya surat al-Waqiah yang dipercaya mampu mendatangkan atau memudahkan ihwal rizki.
Hal ini tidak lepas adanya kebutuhan untuk hidup dengan al-Quran, atau bisa kita sebut dengan Living Quran (Kehidupan dalam al-Quran). Living Quran sejatinya telah lama dimulai oleh para kyai yang notabenenya sebagai pewaris para nabi. Kemudian menurun kepada para muridnya, atau kita sebut dengan Santri.
Santri secara sadar atau tidak, kehidupan sehari-harinya dibawah naungan al-Quran. Itu semua berkat para kyai yang mengajari dan menuntunnya untuk setia mengamalkan apa yang diperbuat oleh kyai. Tak jarang kadang santri tidak berani bertanya apa yang dilakukan oleh kyainya, meski terasa aneh dalam hatinya. Akan tetapi rasa hormatnya mengalahkan rasa keingintahuannya.
Tradisi mengikuti apa yang dilakukan oleh kyainya inilah yang membuat para santri senantiasa berjalan lurus, yakin dan tidak pernah gentar apa yang dilakukanya. Karena dirinya berpatokan pada apa yang diperbuat kyai. Ber-Amal Ilmy (Amalan yang dilandasi Keilmuan) sesuai dengan kenyakinannya mengikuti kyai.
Tradisi Hafalan Santri
Tradisi mengahafal ilmu pengetahuan telah berlansung sejak lama, khusunya didaerah Timur Tengah, mulai zaman pra-Islam sampai sekarang ini. Banyak pesantren yang menerapkan hafalan untuk pelajaran sehari-hari. Sering kita jumpai pesantren yang mewajibkan muridnya hafal pelajaran penting. Seperti halnya di Madrasah TBS Kudus yang mewajibkan santrinya untuk menghafal ilmu Gramatikal Arab, yakni Alfiyah Ibnu Malik. Sebuah karangan puisi arab sebanyak 1000 bait, yang menjadi rujukan utama dalam tata bahasa arab. Bahkan hafalan ini menjadi menjadi tolak ukur ketika santri akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Awalnya santri akan merasa tidak banyak manfaat ketika menghafal, akan tetapi seiring berjalannya waktu santri akan sadar, bahwasannya hafalanya akan membantu ketika dia belajar, karena memori otak akan terbuka ketika dia mengulang hafalannya. Secara tidak langsung, tradisi menghafal akan mengajarkan santri untuk terbiasa menghafal dan mengingat. Dengan mengahafal santri mendapatkan kuncinya, dan kunci itu untuk mengaplikasikan ilmu tersebut.
Banyak para kyai yang hafal berbagai kitab, dikarenakan tradisi ini. Dengan menghafal akan banyak ilmu yang kita fahami. Allah SWT berfirman Apakah sama orang yang tahu (berilmu) dg yang tidak tahu?. lantas apakah kita masih malas untuk menghafal?
Tradisi Menghormati Kyai
Kyai adalah panutan bagi santri, apapun yang dilakukannya harus dipercayai dan diduplikasi. Karena Kyai adalah seorang Guru, yang dalam bahasa jawa kepanjangannya adalah GU harus digugu (dipercaya) dan RU harus ditiru (diikuti).
Dalam al-Quran dikisahkan, bahwasannya Nabi Musa diperintah oleh Allah untuk bertemu dengan seorang Nabi (Khidir) - ini adalah isyarat Alah kepada Nabi Musa untuk berguru. Kemudian Nabi Khidir memberikan syarat kepada Nabi Musa untuk tidak bertanya ketika diperjalanan nanti. Ketika diperjalanan Nabi Musa mendapati banyak hal yang janggal, dan itu berulang sampai tiga kali, disetiap keanehan tersebut Nabi Musa pun bertanya, hingga membuat Nabi Khidir mengalah untuk menjelaskannya dengan konsekuensi bahwa Nabi Musa gagal menjadi santrinya (murid). Nabi Khidir pun akhirnya memberi tahu apa yang diperbuatnya, dan ternyata Nabi Musa pun mengakuinya dengan penuh rasa menyesal.
Seperti yang dicontohkan oleh Mahaguru Simbah Arwani Amin, ketika beliau mondok di Krapyak Jogjakarta. Beliau diminta oleh gurunya Simbah Munawwir untuk membersihkan kulah (kamar mandi), padahal beliau memakai pakaian yang bagus. Tetapi beliau tidak ganti pakaian dan langsung mengerjakan apa yang diperintah Kyainya. Karena disetiap kepatuhan akan ada berkah.
Pemandangan menghormati kyai lazim kita dapati pada Santri Menara, ketika berjalan dan didepannya ada kyai, santri akan berjalan dengan sabar dibelakangnya, dan berusaha tidak mendahuluinya. Ketika ada kyai datang maka santri akan akan berhenti dan sedikit membungkuk simbol hormat kepada kyai.
Dalam uraian tersebut santri harus meyakini apa yang diperbuat oleh kyai, husnudzon (prasangka baik) dengan segala kehidupan kyai bahwasaanya apa yang dilakukan kepada kita itulah yang terbaik. Karena guru itu lebih mengarti apa yang terbaik untuk muridnya.
Tradisi Memuliakan Ilmu
Ilmu ibarat manusia, jika kita memuliakannya dia akan mendekat, akan tetapi ketika kita mencela dan tidak menghormati, maka dia akan menjauh dan pergi. Memuliakan ilmu harus lahir bathin, lahiriahnya adalah bentuk fisik ilmu itu sendiri, yakni al-Quran, kitab, buku, dll. Sementara bentuk bathinnya adalah dengan cara mengulang, mempelajari, membaca, dll.
Fenomena memuliakan ilmu bisa kita temukan pada santri, khususnya Santri Menara - santri yang hidup di daerah sekitar menara, lebih spesifiknya santri TBS Kudus. Di daerah tersebut santri begitu memuliakan ilmunya, sebelum belajar kitab maka akan diciumnya bak kekasihnya, pun ketika selesai mempelajarinya. Menaruh ditempat yang tinggi sekiranya tidak sejajar dengan kaki sampai pusar. Bahkan, penulis sendiri pernah ditegur oleh guru ketika studi di MTs TBS, dikarenakan menaruh kitab disembarang tempat, kemudian guru tersebut berkata. Ilmu itu memilih tuannya, jika dia diperlakukan baik, maka dia (ilmu) akan setia mengikuti tuannya (melekat dalam hati). Perkataan itu masih penulis ingat hingga saaat ini.
Kata Imam Syafii, bahwasannya dengan ilmu kita akan mengusai dunia atau akhirat, bahkan keduanya. Allah sendiri akan meninggikan derajat orang yang berilmu.
Tradisi Rendah Hati
Pernahkah kita mendengar kisah Simbah Yai Turaihan Adjhuri? Beliau adalah Ahli Falak (Astronomi) yang sangat terkenal. Pernah suatu ketika, Simbah Turaihan berbeda pendapat dengan Pemerintah tentang gerhana matahari, sehingga beliau mengatakan bahwa melihat matahari pada waktu gerhana tidak membutakan mata. Pada akhirnya pernyataan beliau benar terjadi. Kejadian seperti ini tidak membuat beliau sombong.
Sikap Rendah hati tetap dimiliki beliau dalam kehidupan sehari-hari, bahkan beliau selalu bersikap akomodatif terhadap pemerintah, walaupun pemerintah pernah beberapa kali mencekalnya karena mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan pemerintah perihal penentuan awal bulan syawwal.
Rendah hati dalam kehidupan santri sudah pasti kita dapatkan, menjalankan anjuran Allah SWT untuk bersikap tawadlu. Jika kita melintas di daerah sekitaran Menara Kudus menuju madrasah TBS Kudus. Berjalan santri tidak dengan membusungkan dada, tetapi dengan membungkukkan badan. Seakan dirinya berkata aku ini hanyalah manusia biasa. Sikap ketawadlu’an ini juga bisa kita temukan di dalam kelas, ketika santri sudah mengetahui apa yang diajarkan oleh kyainya, dia akan tetap mendengarkan dan memperhatikan dengan Ikhlas.
Tradisi Orientasi Akhirat
Dunia ladang akhirat, barang siapa yang bercocok tanam maka dia akan memanennya. Imam Ghazali mengisyaratkan bahwa hidup didunia hanya sementara, yang kekal adalah akhirat.
Salah satu masyayikh TBS Kudus, Simbah Yai Mamun Ahmad pernah ditanya seseorang, Mbah Yai sakit kok malah mengucapkan hamdalah?, Mbah Mamun pun menjawab, Alhamdulillah saya dikasih sakit panas, jadi tidak usah repot-repot memasak air panas. Subahanallah, tatkala seorang ditimpa musibah, Mbah Mamun malah bersyukur kepada Allah. Mbah Mamun memang terkenal dengan kezuhudannya (tidak memikirkan dunia), karena segala yang beliau terima hanya titipan.
Pernah suatu ketika, beliau menolak sumbangan dari pemerintah dengan alasan syubhat (tidak jelas halal haramnya). Terkenal dermawan, bahkan sebagian harta beliau diberikan kepada Madrasah TBS Kudus. Beliau tidak memikirkan bahwa hartanya akan habis. Beliau sering berkata Masalah rejeki, kabeh wes ono seng ngatur (tentang rizki, semua sudah ada yang mengatur yakni Allah).
Kedihupan santri di pondok tidak lepas dengan interaksi sosial, karena pondok adalah tempat berkumpulnya para penuntut ilmu. Santri tidak akan tega melihat temannya kesusahan, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya bahagia, walaupun dia sendiri juga membutuhkan materi tersebut. Kebiasaan lainnya yakni ketika sehabis pulang liburan atau sekedar balik ke rumah, membawa makanan dan akan dimakan bersama-sama. Santri tidak memikirkan sendiri bagaimana nanti makananya habis, tetapi karena santri percaya bahwa rizki sudah ada yang mengaturnya.
Tradisi Santri sejalan dengan Firman Allah SWT, Dan carilah pada segala anugerah yang telah diberikan Allah kepadamu (orientasi) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan duniamu, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.
Pada Akhirnya, semua yang berpegang kepada al-Quran maka dia yang akan beruntung. Semoga kita semua termasuk orang yang diridhoi Allah dalam segala aktivitas kita. Amin.
Zaki Muttaqien
*Alumni MTs NU TBS Kudus tahun 2007. Lahir di Pati, 26 Januari 1992. Masa Kecilnya dihabiskan untuk menghafal al-Quran di Ponpes Yanbuul Quran Anak-Anak Krandon Kudus. Kelas 3 MI sudah khatam dan bertalaqqi langsung kepada Romo Yai Albab Arwani. Melajutkan MTs NU TBS sembari mondok di Yanbuul Quran Remaja. Hijrah ke kota Pati untuk Studi di MA Raudlatul Ulum YPRU Guyangan Pati. Baru saja merampungkan pendikan Sarjana Ilmu Quran di Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran (STKQ) AL-HIKAM Depok asuhan KH. Hasyim Muzady. Pernah Mondok di Ponpes Al-Anwar Sarang Rembang, juga pernah Studi selama satu semester di Pusat Studi Quran asuhan Prof. Quraish Sihab dan belajar Qiraat Asyrah di Pesantren Sulaimaniyyah Istanbul Turki cabang Jakarta. Menjabat Sebagai Pengurus Pusat Forum Komunikasi Tafsir Hadits Indonesia (FKMTHI) dan mengabdi di Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP.IPNU). Sedang tugas pengabdian masyarakat di wilayah Aceh selama setahun kerjasama KEMENAG & KEMENDIKBUD. Email : zakimuttaqien@gmail.com Hp. 089669242907/0858669381821.

Allahumma irhamna bil qur'an
BalasHapus