Langsung ke konten utama

Pesan Rasulullah kepada Para Orang Tua

Dalam dunia pesantren, sudah sejatinya orang tua menitipkan anaknya (santri) kepada guru (kiai) untuk nantinya dididik dan dibimbing di lingkungan pesantren. Kewajiban mendidik anak sendiri, sebenarnya merupakan kewajiban orang tua untuk menunaikannya.

Hal itu sebagaimana disampaikan Nabi Muhammad SAW, bahwa kewajiban orang tua kepada anaknya adalah bagaimana mendidik anak-anak sebaik  mungkin, antara lain dengan mendidik untuk menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada Nabi, kepada keluarga Nabi, dan mencintai al-Quran.

Pertama, hubbu rasulillah. Yaitu kewajiban mendidik santri untuk cinta kepada Nabi Muhammad. Ini sulit dilakukan. Mengapa? Karena Rasulullah sudah wafat. Bagaimana bisa mahabbah kepada seseorang jikalau tidak pernah bertemu? Padahal, umumnya munculnya rasa mahabbah (cinta) itu karena sering bertemu. Pepatah jawa mengatakan, “witing tresna jalaran saking kulina”.

Namun guru harus memperhatikan (mendidik) santri agar dalam sanubarinya, muncul rasa mahabbah. Sebab, Rasulullah adalah pembawa risalah untuk umat manusia, yang diutus oleh Allah SWT. Bagaimana ummat menerima syariat Islam jika tidak suka dengan Nabi?

Nah, ini yang harus diinternalisasikan kepada para santri, yaitu menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi. Agar apa yang diturunkan Allah kepada Nabi, melalui guru kemudian di-transfer kepada para santri.

Cara yang bisa diterapkan, yaitu dengan sering membaca shalawat, membaca sirah nabawi, membaca al-barzanji dan dziba’, maulid Nabi, dan lain sebagainya. Contoh kecil, ketika selesai membaca al-barzanji, bacakan juga artinya, supaya santri mengetahui maknanya dan paham apa yang dibaca, sehingga menimbulkan rasa cinta kepada Rasul.

Santri memang harus serbabisa, karena arti santri sendiri adalah (biSA dipiNTeRi). Jika sudah tahu, maka berkewajiban untuk menyampaikan, melalui media dakwah (khitabah). Dengan kata lain, sejatinya santri harus melatih dirinya untuk bisa menguasai apapun.

Kedua, hubbi ahlii baitihi. Yakni mencintai keluarga Rasulullah. Pengertian ahli bait (keluarga) ini ada dua, keluarga dekat dan keluarga jauh. Keluarga dekat adalah keluarga satu rumah seperti ibu, ayah, anak, kakek, nenek, menantu, dan mertua.

Sedang saudara jauh, yaitu semua umat Islam adalah saudara. Maka kita diperintahkan untuk memupuk mahabbah kepada keluarga dekat maupun jauh. Tujuannya, agar bisa saling menyintai sesama umat Islam.

Sekarang ini, banyak terjadi perselisihan di antara umat Islam. Beda partai berseteru. Beda organisasi saling mencaci. Menebar kebencian sesama. Dan yang paling ekstrem, yaitu masalah mastna wa tsulasa wa ruba’ (poligami); suami istri saling membenci, padahal mestinya saling menyayangi.

Ketiga, tilawatil Quran. Yaitu mengajari anak membaca (dan memahami kandungan) al-Quran. Kenapa al-Quran? Kenapa Rasulullah tidak menyuruh untuk mempelajari ilmu hukum, ilmu teknik, ilmu ekonomi, dan sebagainya? Karena semua ilmu ada di dalam al-Quran.

Pada hakikatnya, semua ilmu ada (terkandung) di dalam al-Quran, hanya saja banyak orang tidak memahaminya. Padahal ada cara untuk memahaminya: mula-mula membaca al-Quran dengan tartil, memperhatikan tajwidnya, ghunnah, mad, dll, termasuk juga tata cara dan adab membaca al-Quran dan hormat kepada guru. Kemudian tingkatkan dengan memahami kandungan ayat dengan mempelajari ilmu fikih, tauhid, akhlak. Setelah itu tadabbur al-Quran.

Dengan tadabbur al-Quran, akan diketahui apa (makna) yang terkandung dalam al-Quran. Di mana inti dari semua itu adalah menjalankan perintah Allah SWT., baik itu sunnah atau wajib, dan menjauhi larangan Allah baik makruh atau haram. Ini yang disebut dengan takwa.

Ada pahala dari setiap ayat-ayat al-Quran yang kita baca. Setiap hurufnya berpahala 10 kebaikan. Padahal sehari minimal kita membaca surat al-Fatihah sebanyak 17 kali. Janji Allah SWT., ‘’Barang siapa yang mengajarkan al-Quran dan kemudian (murid) belajar dan mengajarkan al-Quran kembali, maka dijamin akan terbebas dari api neraka’’.

Sungguh betapa besar anugerah al-Quran ini. Mari kita semua selalu membaca, memahami, dan senantiasa melakukan tadabbur al-Quran, supaya senantiasa mendapatkan barakah dari al-Qur’an. Allahuma irhamna bil Quran. (*)

*Disarikan dari mauidlah hasanah yang disampaikan KH. Mc. Ulinnuha Arwani dalam silaturrahmi di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an 1 Pati pada 5 November 2017 oleh Zaki Muttaqien SQ.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Tarbiyatul Ulum

#sejarahTU Salah satu murid Madrasah Tarbiyatud Diniyyah yakni Hj. Sumiyati (Mbah Yati @⁨Mbah Yatii⁩ ) pada th. 62, yg kemudian menjadi Istri KH. Imam Kusairi. Kondisi sekolah pada th tersebut terdiri dari 3 lokal berdinding batu pasir, yg setelah itu direnovasi atas usualan Kades Wedarijaksa Bp. Karsono mendapat bantuan dari pemerintah ketika th. 87. Bertepatan pada saat itu sedang marak Inpres (Instruksi Presiden) untuk Pendidikan Dasar. Narasumber : Hj. Umi Hasanah #sejarahTU Pada th. 1942 berdiri sebuah Madrasah Tarbiyatud Diniyyah yg merupakan cikal bakal lahirnya Madrasah Tarbiyatul Ulum pada th. 1987, bertempat di sebelah utara Jl raya Wedarijaksa-Jetak yg pada awal berdirinya hanya mempunyai 2 lokal kelas dan bangunan Musholla lama. Narasumber : Bp. Shohibi Musa #SejarahTU Mbah Yai Ahmad lahir pada th. 1875 dan wafat pada th 1957 dg usia 82th. Mbah Mad lahir dari pasangan Mbah Mushtofa & .... Dg 6 bersaudara diantaranya Mbah Madnur, Heri, dll. Mbah Mad memp...

NERIMAN

#InspirasiKyaiku _Teladan Simbah Yai Imam Kushairi_ *NERIMAN* Semenjak kecil Mbah Yai Imam Kushairi sudah menerapkan konsep hidup sederhana -lebih banyak tirakat-. Mengikuti tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad tentang konsep kehidupan, bahwa tidak berlebih-lebihan dalam sesuatu, dan menerima apa adanya. Suatu hari, Mbah Kusairi bertanya kepada Istrinya Mbah Yati tentang apa yg akan dimakan dihari ini. Karen sudah beberapa hari riyadloh (tirakat). πŸ‘³ Mbah Seri : Dino iki mangan opo? (hari ini makan apa)? πŸ§•πŸ» Mbah Yati : Wes entek kabeh, kari Sego Wingi (Sudah habis semua persedian, tinggal Nasi Kemaren) πŸ‘³‍♀ Mbah Seri : Wes gak popo, opo ae aku doyan, angger ora telek wae (Sudah tidak mengapa, apa saja saya mau, yg penting tidak kotoran) πŸ§•πŸ» Mbah Yati : 😭😭😭 Subhanallah. Sifat neriman yg dicontohkan simbah yai, membuat kita yg hidup berkecukupan di zaman sekarang harus banyak bersyukur kepada Allah Swt. _(disarikan dari jagong-jinagong dengan Lek Imam)_ #zQ

SETRUM

#HumorKyaiku _Gojekan Simbah Yai Imam Kisairi_ *SETRUM* Mah Yai Kusairi pada tahun 1986 mempunyai seorang pembantu dalam bidang listrik (staf Elektro), biasanya selalu diajak memperbaiki apabila ada kerusakan pada jaringan listrik atau kabel putus. Ketika ada kabel yg putus, warga tidak tahu, kecuali kalau menjelang malam. Suatu malam ada warga yg melapor bahwa listrik dirumahnya mati. Kemudian Kyai kami dan pembantunya bergegas datang dan memperbaiki kerusakan tersebut. Ditengah proses perbaikan, tiba2 terdengar suara, DARR! sontak pembantunya pun kaget. πŸ‘¨πŸΌ‍🦰wonten nopo mbah? (ada apa mbah) πŸ‘³iki lho le (ini lho nak) sambil menunjuk ke kabel yg terbuka. πŸ‘¨πŸΌ‍🦰wah.. Bahaya niki mbah (ini berbahaya mbah) πŸ‘³ iyo le, ancen setrum gak ndue adab (iya nak, emang setrum tidak punya akhlak) πŸ‘¨πŸΌ‍🦰 lha nopo mbah? (kenapa mbah) tanyanya kebingungan πŸ‘³ wong wes tak hombo puluhan taun lho, kok ijeh mentolo nyetrum ae (sudah saya abdikan diri kelistrikan, kok masih berani meny...