Langsung ke konten utama

Pesantren Sulaimaniyyah (Menghafal Al-Qur'an Hitungan Hari dengan Metode Turki Utsmani)

Pesantren Sulaimaniyyah merupakan Pesantren Tahfizhul Qur'an (menghafal Al-Qur'an) yang berpusat di Negara Turki. Pesantren ini didirikan oleh para relawan dari Turki untuk dakwah Islamiyyah khususnya dalam pendidikan Al-Qur'an. Asramanya pun sudah ribuan dan tersebar diseluruh dunia mulai dari eropa, amerika, australia, afrika, dan asia. Hampir diseluruh negara ada ada pesantren ini, tak terkecuali di Indonesia sendiri. Sepanjang penulis lakukan penelusuran ada sekitar 27 cabang pesantren sulaimaniyyah yang berdiri, termasuk 3 cabang yang sedang dalam persiapan peresmian.
      Dia Kota Serambi Makkah sendiri ada 3 cabang, yang semuanya terletak di kawasan Banda Aceh, Darussalam dan Aceh Besar. Pesantren yang mengusung konsep kebudaayan Islam Turki ini memfokuskan dalam pengajaran Tahfizhul Qur'an yang sistem pengajaran dan pendidikannya mengadopsi sistem pengajaran Al-Qur'an pada masa Daulah Turki Utsmani.
       Di pesantren ini tidak hanya santri tidak hanya dituntut untuk menghafal Al-Qur'an, tetapi juga belajar ilmu syariat, seperti halnya fikih, tauhid, akhlak, dan nahwu sharf (gramatikal bahasa arab). Tak hanya dipelajari, pelajaran syariat pun wajib dihafal semua.
        Pendidikan karakter akan begitu terasa dipesantren ini. meskipun fasilitas pesantren layaknya hotel bintang lima, suasana kehidupan dalam pesantren bercirikan tasawuf, yang semua santrinya diajarkan untuk hidup dalam keadaan bersih dan suci, lahir maupun bathin.
Sejarah Pesantren Sulaimaniyyah
      Cikal bakal pesantren ini sudah ada sejak runtuhnya Dinasti Turki Utsmani pada awal abad 19. Pendiri sekaligus keturunan khalifah Turki Utsmani Syekh Sulaiman Hilmi Tunahan mulai mengajarkan Al-Qur'an secara sembunyi-sembunyi, dikarenakan sekularisme pemerintahan di Turki pada masa kepemimpinan Mustafa Kemal At-Tatruk yang melarang pengajaran Agama Islam.
       Syekh Sulaiman Hilmi tunahan semenjak kecil sudah hafal Al-Qur'an, bertalaqqi (belajar langsung) kepada ayahnya sendiri yakni Efendi Bey (Putra Mufti Khalifah Turki Ustmani), pendidikannya pun dilanjut belajar Al-Qur'an dan Syariat sampai tingkat Universitas di Turki.
        Pesantren Sulaimaniyyah mulai masuk di Indonesia pada tahun 2004, yakni seletah tragedi Tsunami yang terjadi di Aceh. Aceh merupakan awal pertama adanya Pesantren ini, mengingat kerajaan Islam di Aceh adalah "kawan lama" Kekhalifahan Turki Utsmani yang sebelumnya banyak mengirim ulama dari Turki untuk mengajarkan Islam di Aceh.
Metode Tahfizhul Qur'an
      Penerapan sistem menghafal Al-Qur'an di Pesantren Sulaimaniyyah tergolong berbeda dari pada kebanyakan pesantren Tahfizh lainnya. Bila kebanyakan pesantren menghafal Al-Qur'an memulai dari awal sampai akhir, yakni mulai juz satu sampai juz 30 secara berurutan, berbeda dengan Pesantren Sulaimaniyyah yang memulai dari juz 30 halaman terakhir, yakni halaman 20.
        Menghafal halaman terakhir pada setiap juznya, sampai juz 1. Setelah selesai selesai makan mengulang dari juz 30 pada halaman yg ke-19, begitu seterusnya.
        Pemakaian mushaf (Al-Qur'an) untuk hafalan memakai standar mushaf bahriyyah atau mushaf pojok, yakni mushaf yg pada setiap halamannya adalah akhir ayat. Setiap halaman berisi 15 baris, serta setiap juznya berisi 20 halaman.
       Hal ini dimaksudkan agar penghafal Al-Qur'an memiliki hitungan yang pasti ketika proses mennghafal karena akan memudahkan untuk mengingatnya.
       Proses menghafal yang dimulai dari belakang pada setiap juznya, dan berlanjut sampai selesai akan memberikan motivasi dan semangat untuk terus menghafal. Karena pada setiap juz dalam Al-Qur'an memiliki ciri dan karakter tersendiri. Dengan adanya metode acak seperti ini, akan merangsang sistem motorik untuk merasa nyaman, menghilangkan kejenuhan yang menyebabkan stagnisai hafalan.
        Menurut penelitian yang penulis lakukan, rata-rata santri bisa menghafal Al-Qur'an sehari 2 halaman, jika kita kalikan dengan sebulan berarti santri bisa menghafalkan 60 halaman, itu sama artinya telah hafal 3 juz dalam 1 bulan.
        Jika dalam Al-Qur'an ada 600 halaman, berarti santri akan selesai menghafal (khatam) pada hari ke 300, yakni pada bulan ke 10. Tetapi dalam kenyataanya banyak santri yang hafal sebelum waktu yang ditentukan, yakni pada bulan ke 7-8, bahkan ada yang khatam dalam waktu 3 bulan atau 100 hari, subhanallah..
         Sejatinya metode menghafal Al-Qur'an seperti ini bisa kita terapkan kepada masyarakat islam, khususnya diwilayah Aceh yang notabenenya Provinsi Syar'i. Peran Ulama dan Umara sangat bermanfaat bagi Masyarakat dalam kemajuan Pendidikan Al-Qur'an. Mari kita bumikan Al-Qur'an di Bumi Naggroe!

Zaki MuttaQien
Mahasiswa STKQ AL-HIKAM Jakarta
Alumni Pesantren Sulaimaniyyah
Sedang Pengabdian Masyarakat di Aceh

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Tarbiyatul Ulum

#sejarahTU Salah satu murid Madrasah Tarbiyatud Diniyyah yakni Hj. Sumiyati (Mbah Yati @⁨Mbah Yatii⁩ ) pada th. 62, yg kemudian menjadi Istri KH. Imam Kusairi. Kondisi sekolah pada th tersebut terdiri dari 3 lokal berdinding batu pasir, yg setelah itu direnovasi atas usualan Kades Wedarijaksa Bp. Karsono mendapat bantuan dari pemerintah ketika th. 87. Bertepatan pada saat itu sedang marak Inpres (Instruksi Presiden) untuk Pendidikan Dasar. Narasumber : Hj. Umi Hasanah #sejarahTU Pada th. 1942 berdiri sebuah Madrasah Tarbiyatud Diniyyah yg merupakan cikal bakal lahirnya Madrasah Tarbiyatul Ulum pada th. 1987, bertempat di sebelah utara Jl raya Wedarijaksa-Jetak yg pada awal berdirinya hanya mempunyai 2 lokal kelas dan bangunan Musholla lama. Narasumber : Bp. Shohibi Musa #SejarahTU Mbah Yai Ahmad lahir pada th. 1875 dan wafat pada th 1957 dg usia 82th. Mbah Mad lahir dari pasangan Mbah Mushtofa & .... Dg 6 bersaudara diantaranya Mbah Madnur, Heri, dll. Mbah Mad memp...

NERIMAN

#InspirasiKyaiku _Teladan Simbah Yai Imam Kushairi_ *NERIMAN* Semenjak kecil Mbah Yai Imam Kushairi sudah menerapkan konsep hidup sederhana -lebih banyak tirakat-. Mengikuti tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad tentang konsep kehidupan, bahwa tidak berlebih-lebihan dalam sesuatu, dan menerima apa adanya. Suatu hari, Mbah Kusairi bertanya kepada Istrinya Mbah Yati tentang apa yg akan dimakan dihari ini. Karen sudah beberapa hari riyadloh (tirakat). πŸ‘³ Mbah Seri : Dino iki mangan opo? (hari ini makan apa)? πŸ§•πŸ» Mbah Yati : Wes entek kabeh, kari Sego Wingi (Sudah habis semua persedian, tinggal Nasi Kemaren) πŸ‘³‍♀ Mbah Seri : Wes gak popo, opo ae aku doyan, angger ora telek wae (Sudah tidak mengapa, apa saja saya mau, yg penting tidak kotoran) πŸ§•πŸ» Mbah Yati : 😭😭😭 Subhanallah. Sifat neriman yg dicontohkan simbah yai, membuat kita yg hidup berkecukupan di zaman sekarang harus banyak bersyukur kepada Allah Swt. _(disarikan dari jagong-jinagong dengan Lek Imam)_ #zQ

SETRUM

#HumorKyaiku _Gojekan Simbah Yai Imam Kisairi_ *SETRUM* Mah Yai Kusairi pada tahun 1986 mempunyai seorang pembantu dalam bidang listrik (staf Elektro), biasanya selalu diajak memperbaiki apabila ada kerusakan pada jaringan listrik atau kabel putus. Ketika ada kabel yg putus, warga tidak tahu, kecuali kalau menjelang malam. Suatu malam ada warga yg melapor bahwa listrik dirumahnya mati. Kemudian Kyai kami dan pembantunya bergegas datang dan memperbaiki kerusakan tersebut. Ditengah proses perbaikan, tiba2 terdengar suara, DARR! sontak pembantunya pun kaget. πŸ‘¨πŸΌ‍🦰wonten nopo mbah? (ada apa mbah) πŸ‘³iki lho le (ini lho nak) sambil menunjuk ke kabel yg terbuka. πŸ‘¨πŸΌ‍🦰wah.. Bahaya niki mbah (ini berbahaya mbah) πŸ‘³ iyo le, ancen setrum gak ndue adab (iya nak, emang setrum tidak punya akhlak) πŸ‘¨πŸΌ‍🦰 lha nopo mbah? (kenapa mbah) tanyanya kebingungan πŸ‘³ wong wes tak hombo puluhan taun lho, kok ijeh mentolo nyetrum ae (sudah saya abdikan diri kelistrikan, kok masih berani meny...