Langsung ke konten utama

Santriwati Aceh Raih Beasiswa Hafidzah Ke Turki

Nurul Aula (18 Tahun), berhasil mendapatkan beasiswa studi ke Turki oleh UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia) atau Perkumpulan Muslim Turki di Indonesia.

Inong asal Aceh Utara NAD ini merupakan Santriwati berprestasi di tingkat lokal hingga Nasional. Pada tahun 2016 menjadi Finalis DUTA SANTRI NASIONAL yang diselenggarakan di Kota DIY dan diikuti peserta tiap provinsi se-Indonesia.

Selain berprestasi, juga punya seabrek kegiatan yang menunjang sebagai pelajar yang berkompeten dengan menjabat sebagai Ketua Komisariat IPPNU Dayah Terpadu Ruhul Islam Aceh Utara Masa Hidmah 2016-2017.

Setelah selesai menuntaskan hafalan Al-Qur'an 30 Juz pada 2018, kemudian mendapatkan predikat Hafidzoh dari Pesantren Sulaimaniyyah Banda Aceh dengan Uji Publik mentilawahkan secara bil-Ghaib hafalan 30 Juz selama 3 hari.

Akhirnya, pada 20 Juni 2019 sampai di Istanbul Turki, untuk memulai studi Ilmu Al-Qur'an bersama 100 penerima beasiswa tersebut.

Selamat Belajar Berjuang dan Bertakwa!

Zaki Muttaqien
(Mentor Tahfizh Dayah Terpadu Ruhul Islam 2017)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Tarbiyatul Ulum

#sejarahTU Salah satu murid Madrasah Tarbiyatud Diniyyah yakni Hj. Sumiyati (Mbah Yati @⁨Mbah Yatii⁩ ) pada th. 62, yg kemudian menjadi Istri KH. Imam Kusairi. Kondisi sekolah pada th tersebut terdiri dari 3 lokal berdinding batu pasir, yg setelah itu direnovasi atas usualan Kades Wedarijaksa Bp. Karsono mendapat bantuan dari pemerintah ketika th. 87. Bertepatan pada saat itu sedang marak Inpres (Instruksi Presiden) untuk Pendidikan Dasar. Narasumber : Hj. Umi Hasanah #sejarahTU Pada th. 1942 berdiri sebuah Madrasah Tarbiyatud Diniyyah yg merupakan cikal bakal lahirnya Madrasah Tarbiyatul Ulum pada th. 1987, bertempat di sebelah utara Jl raya Wedarijaksa-Jetak yg pada awal berdirinya hanya mempunyai 2 lokal kelas dan bangunan Musholla lama. Narasumber : Bp. Shohibi Musa #SejarahTU Mbah Yai Ahmad lahir pada th. 1875 dan wafat pada th 1957 dg usia 82th. Mbah Mad lahir dari pasangan Mbah Mushtofa & .... Dg 6 bersaudara diantaranya Mbah Madnur, Heri, dll. Mbah Mad memp...

NERIMAN

#InspirasiKyaiku _Teladan Simbah Yai Imam Kushairi_ *NERIMAN* Semenjak kecil Mbah Yai Imam Kushairi sudah menerapkan konsep hidup sederhana -lebih banyak tirakat-. Mengikuti tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad tentang konsep kehidupan, bahwa tidak berlebih-lebihan dalam sesuatu, dan menerima apa adanya. Suatu hari, Mbah Kusairi bertanya kepada Istrinya Mbah Yati tentang apa yg akan dimakan dihari ini. Karen sudah beberapa hari riyadloh (tirakat). πŸ‘³ Mbah Seri : Dino iki mangan opo? (hari ini makan apa)? πŸ§•πŸ» Mbah Yati : Wes entek kabeh, kari Sego Wingi (Sudah habis semua persedian, tinggal Nasi Kemaren) πŸ‘³‍♀ Mbah Seri : Wes gak popo, opo ae aku doyan, angger ora telek wae (Sudah tidak mengapa, apa saja saya mau, yg penting tidak kotoran) πŸ§•πŸ» Mbah Yati : 😭😭😭 Subhanallah. Sifat neriman yg dicontohkan simbah yai, membuat kita yg hidup berkecukupan di zaman sekarang harus banyak bersyukur kepada Allah Swt. _(disarikan dari jagong-jinagong dengan Lek Imam)_ #zQ

SETRUM

#HumorKyaiku _Gojekan Simbah Yai Imam Kisairi_ *SETRUM* Mah Yai Kusairi pada tahun 1986 mempunyai seorang pembantu dalam bidang listrik (staf Elektro), biasanya selalu diajak memperbaiki apabila ada kerusakan pada jaringan listrik atau kabel putus. Ketika ada kabel yg putus, warga tidak tahu, kecuali kalau menjelang malam. Suatu malam ada warga yg melapor bahwa listrik dirumahnya mati. Kemudian Kyai kami dan pembantunya bergegas datang dan memperbaiki kerusakan tersebut. Ditengah proses perbaikan, tiba2 terdengar suara, DARR! sontak pembantunya pun kaget. πŸ‘¨πŸΌ‍🦰wonten nopo mbah? (ada apa mbah) πŸ‘³iki lho le (ini lho nak) sambil menunjuk ke kabel yg terbuka. πŸ‘¨πŸΌ‍🦰wah.. Bahaya niki mbah (ini berbahaya mbah) πŸ‘³ iyo le, ancen setrum gak ndue adab (iya nak, emang setrum tidak punya akhlak) πŸ‘¨πŸΌ‍🦰 lha nopo mbah? (kenapa mbah) tanyanya kebingungan πŸ‘³ wong wes tak hombo puluhan taun lho, kok ijeh mentolo nyetrum ae (sudah saya abdikan diri kelistrikan, kok masih berani meny...