Langsung ke konten utama

TAHFIDH AL-QUR’AN ZAMAN NOW BUTUH IQ TINGGI?

Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk bagi seluruh umat manusia di alam semesta, baik yg berdimensi materiil maupun immateriil. Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, nabi akhir zaman, penutup para nabi, makhluk termulia dan terkasih Allah Swt. Membaca perhuruf dari Al-Qur’an akan diganjar 10 kebaikan.

 Sepanjang zaman, Al-Qur’an selalu terjaga keotentikannya, siapa yang menjaga? Tentu saja para huffazh (penghafal al-Qur’an). Menjaga keaslian redaksi al-Qur’an ini dengan berbagai cara dan metode, baik tulisan (naskah) maupun lisan (hafalan).

 Tradisi menghafal sudah dilakukan para salafusshalih, utamanya para sahabat. Sejak masa Rasulullah menerima wahyu ilahi yg disampaikan kepada para sahabat dan langsung dihafalkan, ditulis diberbagai media tulis, untuk merawat kemurniannya yg kemudian dilakukan pengkodefikasian (pengumpulan-pembukuan) mushaf al-Qur’an.

 Zaman kekinian, tahfizh al-Qur’an (menghafal al-Qur’an) sudah menggelora dikebanyakan berbagai lembaga pendidikan islam, utamanya pendidikan al-Qur’an. Bagaimana tidak, banyak lembaga yang menawarkan berbagai macam pendidikan tahfizh, metode tahfizh, sampai full beasiswa untuk belajar al-Qur’an.

 Fenomena tersebut memberikan gambaran bahwasannya menghafal al-Qur’an zaman now (saat ini) melahirkan ghirrah – semangat yg luar biasa.  Semangat untuk ikut andil dalam menjaga kalam ilahi. Tentu saja langkah ini dibarengi dengan memahami kandungan al-Qur’an dan kemudian mentadabburinya.

 Allah Swt menjamin kepada manusia yg mau belajar al-Qur’an akan diberikan kemudahan dalam prosesnya. Termasuk kemudahan dalam membaca dan menghafalkan firman-Nya. Lalu bagaimana hubungannya dengan IQ? Apakah mempengaruhi?

 Secara hitungan matematis, IQ tinggi memang mempengaruhi proses belajar al-Qur’an, utamanya pada kemampuan menghafal, tetapi cuma sekitar dan tidak sampai 5 persen. Apakah itu menjadi syarat utama bagi seorang santri untuk melakukan kegiatan tahfizh al-Qur’an?

 Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah memberikan enam syarat dalam menuntut ilmu, diantaranya santri harus mempunyai sifat dzaka’ (cerdas). Maksud dari wejangan tersebut bukan hanya semata kecerdasan otak, akan tetapi mencakup berbagai kecerdasan, seperti halnya kecerdasan intelektual (kemampuan berfikir dan menganalisis), kecerdasan emosional (semangat, motivasi, etos, dan cinta), sosial (kemampuan beradaptasi dan komunikasi), dan spiritual (berhubungan dg masalah keagamaan).

 Tentu saja pada hal ini, kecerdasan yg dimaksud bukan hanya “bawaan” dari lahir (bakat), seperti halnya IQ. Tetapi juga kecerdasan yg diusahakan untuk mendapatkannya. Kecerdasan seperti inilah yg dibutuhkan oleh seorang santri. Untuk hal ini, bisa kita sederhanakan kalau kecerdasan IQ adalah sebuah anugerah (pemberian dari Allah Swt).

 Pada suatu kesempatan, Buya KH. Ulinnuha Arwani memberikan nasehat kepada para santri bahwasannya “Kalau santri sudah berada di pesantren, kecerdasan IQ tidak bisa diandalkan, kuncinya adalah nderes, nderes, dan nderes”. Mencermati apa yg dikatakan beliau, memang benar adanya. Umpamanya sebuah pisau yg tajam jarang diasah akan menjadi tumpul. Itupun berlaku bagi otak yg cerdas tapi jarang digunakan.

 Senada dengan yg disampaikan Abah KH. Ulil Albab Arwani, bahwasannya menghafal al-Qur’an di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an itu metodenya (Metode Yanbu’a) Cuma satu, yaitu “Banyak diulang dan sering diulang”. Beliau tidak menyinggung tentang andil kecerdasan dalam proses tahfizh.

 Ketika penulis nyantri di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an ada beberapa kisah yg diceritakan Kang Santri (nama samaran) tentang keadaan beberapa santri yg kurang kemampuanya dalam menghafal al-Qur’an, salah satunya adalah seoarang santri yg kurang baik penglihatnnya (buta). Santri tersebut menghafal al-Qur’an dengan audio (zaman dulu memakai tape/kaset). Bisa dibayangkan bagaimana payah dan sulitnya proses tahfizh seperti ini. Tapi dalam perjalannya, santri tersebut akhirnya bisa selesai dan khatam mengajinya, setelah dicermati ternyata karena semangat, istiqomah, dan ketekunan. Lagi-lagi dalam hal ini kecerdasan IQ tidak begitu diandalkan.

 Menghafal al-Qur’an adalah sebuah proses satu-kesatuan yaitu dengan sistem Binadlor (membaca yg akan dihafalkan) kemudian Ziyadah/Nambah (menambah hafalan) dan Murojaah/Nderes (mengulang hafalan). Kalau konsepnya seperti ini, akankan kita tetap mengandalkan IQ kita?

 Kesimpulannya, tahfizh al-Qur’an membutuhkan niat yg tulus ikhlas, motivasinya karena lillahi ta’ala, prosesnya membutuhkan semangat yg luar biasa, dalam perawatannya membutuhkan stock kesabaran yg banyak, pada perangkaian ayat per-ayatnya membutuhkan ketelitian tingkat dewa dalam membedakan ayat mutasyabihat, setelah sampai pada puncak paripurna (khatam) pun tetap diistiqomahkan untuk selalu setia menjaga wahyu-Nya. Dengan wasilah setoran kepada Romo Yai, mengadakan khataman rutinan, membuat mudarosah pojokan, juga termasuk “barokah” khataman temporal.

Bagaimana dengan andil IQ kita?

*Ustadz Zaki MuttaQien, Guru Al-Qur’an di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an 1 Pati, Alumni Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-Anak Krandon Kudus 1998-2004, Alumni Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Remaja Bejen Kudus 2004-2007.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Tarbiyatul Ulum

#sejarahTU Salah satu murid Madrasah Tarbiyatud Diniyyah yakni Hj. Sumiyati (Mbah Yati @⁨Mbah Yatii⁩ ) pada th. 62, yg kemudian menjadi Istri KH. Imam Kusairi. Kondisi sekolah pada th tersebut terdiri dari 3 lokal berdinding batu pasir, yg setelah itu direnovasi atas usualan Kades Wedarijaksa Bp. Karsono mendapat bantuan dari pemerintah ketika th. 87. Bertepatan pada saat itu sedang marak Inpres (Instruksi Presiden) untuk Pendidikan Dasar. Narasumber : Hj. Umi Hasanah #sejarahTU Pada th. 1942 berdiri sebuah Madrasah Tarbiyatud Diniyyah yg merupakan cikal bakal lahirnya Madrasah Tarbiyatul Ulum pada th. 1987, bertempat di sebelah utara Jl raya Wedarijaksa-Jetak yg pada awal berdirinya hanya mempunyai 2 lokal kelas dan bangunan Musholla lama. Narasumber : Bp. Shohibi Musa #SejarahTU Mbah Yai Ahmad lahir pada th. 1875 dan wafat pada th 1957 dg usia 82th. Mbah Mad lahir dari pasangan Mbah Mushtofa & .... Dg 6 bersaudara diantaranya Mbah Madnur, Heri, dll. Mbah Mad memp...

NERIMAN

#InspirasiKyaiku _Teladan Simbah Yai Imam Kushairi_ *NERIMAN* Semenjak kecil Mbah Yai Imam Kushairi sudah menerapkan konsep hidup sederhana -lebih banyak tirakat-. Mengikuti tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad tentang konsep kehidupan, bahwa tidak berlebih-lebihan dalam sesuatu, dan menerima apa adanya. Suatu hari, Mbah Kusairi bertanya kepada Istrinya Mbah Yati tentang apa yg akan dimakan dihari ini. Karen sudah beberapa hari riyadloh (tirakat). 👳 Mbah Seri : Dino iki mangan opo? (hari ini makan apa)? 🧕🏻 Mbah Yati : Wes entek kabeh, kari Sego Wingi (Sudah habis semua persedian, tinggal Nasi Kemaren) 👳‍♀ Mbah Seri : Wes gak popo, opo ae aku doyan, angger ora telek wae (Sudah tidak mengapa, apa saja saya mau, yg penting tidak kotoran) 🧕🏻 Mbah Yati : 😭😭😭 Subhanallah. Sifat neriman yg dicontohkan simbah yai, membuat kita yg hidup berkecukupan di zaman sekarang harus banyak bersyukur kepada Allah Swt. _(disarikan dari jagong-jinagong dengan Lek Imam)_ #zQ

SETRUM

#HumorKyaiku _Gojekan Simbah Yai Imam Kisairi_ *SETRUM* Mah Yai Kusairi pada tahun 1986 mempunyai seorang pembantu dalam bidang listrik (staf Elektro), biasanya selalu diajak memperbaiki apabila ada kerusakan pada jaringan listrik atau kabel putus. Ketika ada kabel yg putus, warga tidak tahu, kecuali kalau menjelang malam. Suatu malam ada warga yg melapor bahwa listrik dirumahnya mati. Kemudian Kyai kami dan pembantunya bergegas datang dan memperbaiki kerusakan tersebut. Ditengah proses perbaikan, tiba2 terdengar suara, DARR! sontak pembantunya pun kaget. 👨🏼‍🦰wonten nopo mbah? (ada apa mbah) 👳iki lho le (ini lho nak) sambil menunjuk ke kabel yg terbuka. 👨🏼‍🦰wah.. Bahaya niki mbah (ini berbahaya mbah) 👳 iyo le, ancen setrum gak ndue adab (iya nak, emang setrum tidak punya akhlak) 👨🏼‍🦰 lha nopo mbah? (kenapa mbah) tanyanya kebingungan 👳 wong wes tak hombo puluhan taun lho, kok ijeh mentolo nyetrum ae (sudah saya abdikan diri kelistrikan, kok masih berani meny...